26 November 2009

Lintang Yang Ketiga - LYK (Lintang)

Tuhan selalu tak merestui hubunganku
Aku kembali terjatuh
“Dia nembak kamu, main-main. Ngerti!” kata Gina
Hati yang telah melambung kini telah dijatuhkan sekeras-kerasnya
Semuanya hancur tak ada sisa

jadi selama ini kau membohongiku?
hanya itu pertanyaanku
yang dapat aku simpulkan sekarang
semua yang kamu ungkapkan padaku hanyalah kebohongan
di depanku kau berkata A, di depannya kau berkata Z

Di depannya, kau tak pernah membelaku
tp di belakang, kau memujaku, menginginkan aku
bimbang rasanya hati ini

Air mata inipun enggan tuk menetes lagi
Terlalu sesak
Terlalu pedih, hingga air matakupun tak bisa tuk mewakili perasaanku
Hari ini, dia telah mengungkap bahwasannya aku memang wanita gampangan
Dia yang pernah bilang seperti itu padaku
Iya, aku memang mudah jatuh cinta
Aku telah jatuh cinta dengan orang yang salah
Orang yang ku percaya ternyata ia juga mendustai kepercayaanku
Apakah aku harus tak mempercayai omongan orang?
Hatiku telah luruh
Pikiran ini juga telah kabur
Aku sudah tak bisa bedakan lagi mana kejujuran dan mana kebohongan
Aku sudah terlalu lelah untuk percaya
Tapi di saat aku percaya ternyata kamu juga sama saja
Hanya memainkan aku sebagai bonekamu
Yang dapat kamu mainkan, kamu buang, seenak kamu sendiri
Tuhan, aku hanya ingin sejenak melabuhkan hati ini
Aku sudah lelah Tuhan
Aku lelah untuk percaya, aku lelah untuk membangun lagi kepercayaan itu
Maafkan aku Tuhan, aku terlalu sering mengeluh….

Jogja, 23 November 2009

24 November 2009

LINTANG YANG KETIGA (bag. 2)

Aku memang memilih untuk siap menjadi yang terbuang. Aku telah memilih jalanku untuk menjadi seorang yang dipersalahkan. Dan secuil kebahagiaan itu telah kuraih. Aku bahagia dan nyaman berada di dekatnya, tanpa pernah memikirkan konsekuensi yang akan terjadi. Tanpa pernah memikirkan hal terburuk yang akan aku terima.

Hari-hari berikutnya aku jalani secuil kebahagiaan itu dengan ikhlas. Meskipun aku bukan yang pertama. Ingat, bukan yang pertama. Selalu menjadi yang kedua dari yang pertama. Pahit, namun tetap saja aku jalani.
“Aku sayang kamu,” kata Dimas.
“Iya, aku juga sayang kamu,” aku jawab.

Hanya secuil, dan memang secuil, harapan kebahagiaan itu hadir.

Di tengah-tengah secuil kebahagiaan itu, aku telah melupakan sesuatu. Melupakan kenyataan, Gina.

SMS
Dari Dimas:
“Lin, Gina marah sama aku!”
Aku:
“Marah kenapa? Gara-gara aku?”
Dimas:
“Ya iya, siapa lagi? Kamu SMS dia gih!”
Aku:
“Terus aku mau bilang apa sama dia? Bingung….”
Dimas:
“Terserah!”

Waktu itu memang Dimas sedang bersama Gina, dan tak sengaja aku mengganggu mereka, aku menelepon Dimas, tapi tak diangkatnya. Sakit, tapi memang itu risikonya. Akhirnya, aku memberanikan diri mengirim SMS untuk Gina.

Aku:
“Mmm, Gina ya?”

Tidak ada balasan. Dengan SMS itu, aku hanya bermaksud ingin menyatakan bahwa aku juga telah mengenal Gina dari Dimas, karena aku dan Dimas telah mengambil keputusan untuk menjadi ade dan kakak. Akan tetapi masih tetap sama saja, perasaan itu tak pernah hilang.

Diam, dan aku hanya berandai-andai. Mereka sedang berdua. Apa yang sedang mereka lakukan? Aku iri, tapi tak punya hak untuk iri. Aku cemburu, tapi tak ada ikatan yang membuatku harus cemburu kepada Dimas.

-beep beep beep-
HP-ku bergetar. “Dimas ngapain telepon, bukannya dia lagi sama Gina?”, tanyaku dalam hati.
“Hallo…”, sapaku.
Lama tak ada yang bicara. Berulang kali aku menyapa tapi tidak ada jawaban. Aku bingung. Tidak pernah Dimas telepon seperti ini, ataukah hanya iseng. Terpikir untuk mematikan, namun suara diseberang sana telah menjawab. Wanita. Dan sudah bisa kutebak, dia siapa. Bukan Dimas tentunya.

“Hallo, ini siapa?” tanya wanita itu.
Aku gugup.
“Ya Tuhan, akankah Engkau ulang kembali cerita itu?” mencoba bertanya kepada Tuhan dan menyalahkan-Nya.
Jujur, aku menjawab, “aku Lintang, kamu Gina ya?” tanyaku.
“Lintang siapa?” tanya Gina menyelidik.
“Lintang temannya Dimas di tempat lahirnya,” aku jawab dengan bingung.
“Tadi kamu ngapain telepon ke nomor ini?” tanya Gina.

Perasaanku terasa diaduk-aduk. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya, aku sekarang kehilangan pegangan.

“Tadi aku mau curhat sama Dimas,” kilahku.
“Cuma mau curhat? Kamu bisa kan curhat sama teman yang lain? Jangan ganggu nomor ini lagi!” kata Gina. Dan “klik!” teleponnya dimatikan.

Seketika air mataku meleleh. Sudah kuduga semua ini akan terjadi kembali. Meskipun konsekuensi ini selalu kuingat, namun teori tak semudah dengan praktiknya. Aku hancur, terlalu hancur. Jika diibaratkan sebuah bongkahan batu es, aku mencair tapi tak hanya mencair. Cairan itu telah menguap dan tak ada sisa. Seperti itulah hatiku sekarang.

Aku menghormati Gina sebagai pacar Dimas, karena aku sayang Dimas. Dan dari Dimas, secuil kebahagiaan itu telah aku rasakan. Aku memang sakit, akan tetapi memang dari awal telah kupersiapkan untuk sakit. Dan sekarang aku ingin orang-orang disekitarku bahagia.

Aku menangis sejadi-jadinya.

“Aku telah terbuang,” rintihku.


Jogjakarta, 14 November 2009

13 November 2009

LINTANG YANG KETIGA (bag.1)


Sejenak aku terdiam dan menyadari bahwa ternyata diriku ada di posisi yang salah. Aku hadir di antara mereka seakan Dimas adalah makhluk di alam bebas yang tak punya keterikatan dengan Gina. Aku lemah tak berdaya mendengarkan kejujuran Dimas. Terasa kerajaan hati yang telah rapuh, runtuh kembali tanpa bekas.


“Maaf Lin, kamu tidak akan membenci aku kan? Aku sayang kamu. Aku tak akan mere-lakan kamu lepas dari aku. Aku selalu ingin menjagamu. Aku nyaman berada di dekat-mu Lintang,” pinta Dimas kepadaku.


Aku hanya bisa meneteskan air mata. Aku mengutuki diriku sendiri. Tuhan, aku mengulang kesalahan yang sama.


Lupakah kamu, Dimas. Dulu pernah aku bercerita soal mantanku, Ditya. Ditya yang telah membohongiku selama berbulan-bulan. Ditya yang telah membuatku jera untuk menjalin hubungan lagi dengan orang lain. Tak ingatkah kamu Dim? Dan sekarang kamu membuat aku mengulang lagi kesalahan itu!


-beep beep beep-
“No number? Siapa ya?” pikirku. “Hallo….”
“Siapa kamu!” wanita diseberang sana bertanya menodongku. Aku berusaha tenang dan hanya menganggap mungkin wanita itu salah sambung.
“Maaf, Anda siapa? Anda yang menghubungi saya terlebih dahulu. Harusnya saya yang bertanya demikian,” mencoba menenangkan keadaan.
“Gak penting aku siapa, yang penting kamu ada hubungan apa dengan Ditya?” tanya si wanita itu terhadapku.
Aku termenung, “dia kenal Ditya? Siapa dia? Kenapa dia tak suka padaku?”
“Saya temennya Ditya. Ada apa ya, kok Mba telepon saya? Kalau boleh tahu, mba ini siapa?” tanyaku ramah.
“Temen kok SMS-nya mesra seperti itu. Kamu pacarnya Ditya kan? Aku Cindy! Aku sudah tiga tahun pacaran dengan Ditya,” kata wanita yang menelponku di seberang sana.
Aku semakin tertegun dan tak tau mesti berkata apa. Dengan menahan perasaan yang bergejolak, aku menjawab kembali pertanyaan wanita itu, yang mengaku bernama Cindy, “maaf, saya tidak tahu kalau Ditya sudah punya pacar. Maafkan saya sudah mengganggu hubungan kalian. Sekali lagi maafkan saya. Saya tidak akan menghubungi Ditya lagi.”
“Klik!” dan wanita yang bernama Cindy itu menutup teleponnya.


Hanya itu yang bisa aku lakukan. Hanya meminta maaf. Tidak ada yang lain yang bisa kulakukan. Aku mengenal Ditya dua bulan, pacaran dengannya tiga bulan. Jika diban-dingkan dengan tiga tahun, aku memang bukan siapa-siapa. Aku hanya batu penghalang ditengah perjalanan cinta mereka.


Ditya memang selalu mengungkapkan kata-kata manisnya kepadaku. Ditya yang kukenal selalu baik kepadaku. Ditya juga yang telah memintaku untuk menjadi pacarnya. Salahkah aku jika aku menerimanya sebagai pacarku, di saat aku telah merasa nyaman di sampingnya? Sedangkan dengan sadar dia mengakui bahwa dia single, dan kuperhati-kan dia selalu ada di sampingku setiap saat?


Aku memang tidak bisa melakukan apa-apa. Aku sedang liburan di rumah. Yang bisa aku lakukan hanya mencoba menelepon Ditya. Aku coba berulang kali, namun tak diangkatnya telepon dariku. Aku SMS juga tidak ada balasan. Yang ada aku mendapat-kan balasan SMS lain, bukan dari Ditya.
“Katanya tidak akan menghubungi Ditya lagi, mana? Kamu masih saja mengganggu kehidupannya”


Aku menangis sejadi-jadinya. Tak kuasa kubendung tanggul air mata yang sedari tadi mencoba meluap.


“Ditya, apa salahku terhadapmu? Aku sayang kamu tanpa pamrih. Aku tak pernah meminta apa-apa darimu. Aku selalu menjaga hubungan kita. Tapi kenapa kauhancurkan semua itu Ditya?” pertanyaan-pertanyan itu hanya kuberondongkan pada angin.


Lalu aku berjalan, duduk menghadap cermin. Masih dengan tumpahan tangisan, ku-pandangi bayangan diriku di cermin.


“Kamu bodoh Lintang! Kenapa kamu percaya saja kata-kata manis Ditya? Kamu terlalu lugu Lintang. Tak pernahkah kamu tahu? Cowok itu bermulut buaya, fisiknya saja kucing, tapi hati srigala!”
“Tidak! Aku tidak bodoh. Ditya yang salah. Kalau dia sudah punya pacar, kenapa dia masih juga mengejar dan memacari aku? Kenapa juga dia selalu baik padaku?”
“Lintang, kalau kamu tak bodoh, lalu apa namanya? Salahnya kamu mau percaya pada semua omongannya! Kamu itu salah Lintang! Kamu sudah mengganggu hubungan mereka. Makanya Cindy marah-marah sama kamu!”
“Tapi aku tak tahu!”
“Ya itu salahmu! Karena kamu tak tahu. Kamu mudah dibohongi hanya dengan rayuan gombal Ditya! Kamu salah! Kamu bodoh! Dasar pengganggu hubungan orang!”


Semakin deras derai air mata yang mengalir. Tuduhan dari bayangan diriku sungguh menyiksaku. Aku tak sanggup mendengarnya lagi. Sesak. Aku berdiri menghadap cermin, dan yang kulihat sekarang hanya bayangan rapuh diriku. Aku berjalan, kemudian merebahkan diri di tempat tidur.


Aku sesenggukan menahan rasa kecewa yang masih membara di dalam hati, serta perasaan bersalah yang mengikutiku dan menyiksaku dengan tuduhan-tuduhannya.


“Maafkan aku Cindy, Ditya. Iya, aku salah. Aku hadir diantara kalian, dan tanpa sepengetahuanku, aku telah mengusik keharmonisan hubungan kalian. Maafkan aku…”


Hatiku hancur, tapi tak hanya sekedar hancur. Di tengah isakan tangisku, aku berkata pada diriku sendiri, “aku hidup tak ingin menyakiti siapa-siapa. Biarlah aku yang sakit, asalkan orang lain disekitarku bahagia. Aku tak ingin egois.”


Sudah terlalu lelah aku menangis, dan aku pun terlelap. Dengan sejuta keyakinan, aku bertekad untuk tidak menjalin hubungan dulu dengan laki-laki. Aku masih rapuh. Kesiapan untuk jatuh cinta harus dibarengi dengan kesiapan patah hati.


“Lin, kamu dengar aku kan?” tanya Dimas sambil menggoyang-goyangkan lenganku, membuyarkan semua lamunan masa laluku.
“Iya Dim, aku dengar,” jawabku lirih.
“Lalu bagaimana? Apa kamu masih mau menjadi pacarku?” meminta persetujuan dariku.


Aku ragu akan diriku sendiri. Di satu sisi aku telah menilai diriku salah, karena telah hadir di kehidupan mereka, di sisi lain aku telah terlanjur menyayangi Dimas dan begitu juga dengan Dimas. Tak kuasa, kutumpahkan air mataku, “Tuhan, kenapa Kau-hadapkan aku dengan masalah yang sama? Bedanya hanya Ditya bohong, dan Dimas jujur. Alangkah sakit hati ini mendengar kejujuran yang pahit itu.”


Dimas masih mendesakku, “Lin, tolong bicara. Kamu sayang aku kan? Kamu cinta aku kan? Kamu masih mau dekat denganku kan?”
“Iya Dim, aku sayang kamu, aku juga cinta kamu. Tapi tak mungkin bagiku untuk masih dekat dan berpacaran denganmu, setelah aku tahu bahwa kamu sudah punya pacar Dim! Apa kamu tak membayangkan, betapa sedihnya cewekmu kalau dia tahu bahwa kamu telah meminta cewek lain untuk mengisi ruang hatimu yang lain? Tolong pikirkan itu Dim! Tolong kamu jangan egois!” kataku mencoba membela diri.


Keadaan tenang, mungkin Dimas sedang memaknai kata-kataku atau mungkin menyiapkan sejuta alasan dan pembelaan untuk mempertahan aku agar tetap menjadi pacar simpanannya. Sedangkan aku masih memutar otak, mencoba mencari sedikit celah untuk lari dari masalah ini. Akan tetapi, tak kutemui celah itu. Buntu. Tangisku semakin menjadi.


“Ssst…. Sudah ya sayang, jangan nangis lagi. Maafkan aku,” menenangkan aku seraya memelukku.


Aku menangis dipelukannya, aku selalu merasa nyaman di dekatnya. Hal inilah yang membuatku tak bisa jauh darinya. “Dimas, aku sayang kamu. Aku ingin selalu ada di dekatmu,” pintaku pada Dimas.
“Iya Lintang, aku akan selalu di dekatmu,” jawabnya.


Teoriku telah runtuh. Teori yang kubuat sendiri, tetapi juga kubantah sendiri. Aku orang ketiga. Aku salah dan mungkin harus menyiapkan diri untuk terbuang, atau membuang diri. Semua akan berjalan lancar selama Gina tak tahu, dan hal ini telah memberiku teori baru, “aku hanya menginginkan secuil kebahagiaan, mesti harus dibarengi dengan rasa sakit. Aku telah siap untuk terbuang, jika saatnya nanti aku inginkan kebahagiaan disekitarku.”




Jogjakarta, 13 November 2009

terima kasih untuk: Bastian, Cindy, Ari, dan Winar
kalian telah memberikan warna pada kehidupanku ^^

Suntea

01 November 2009

MASALAHKU, MASALAHMU


Pagi ini aku harus berangkat ke sebuah dusun kecil di pelosok kota Semarang. Tidak pernah terbayangkan olehku mendapatkan tempat tugas di daerah pelosok. Selama aku dilahirkan di bumi ini, aku tidak pernah bersinggungan dengan daerah pedesaan, alih-alih dusun pelosok. Sejak surat panggilan itu datang, kegelisahan dan kegundahan merenggut seluruh pikiranku. Aku enggan meninggalkan keramain kota ini. Akan tetapi, hal ini adalah cita-citaku dulu. Bukan, bukan cita-citaku, cita-cita almarhum Ayahku. Mengingat almarhum Ayah, sungguh luar biasa semangat ini muncul begitu saja. Akhirnya, aku berangkat.

“Bu, Setyo pamit pergi ya?”, aku pegang tangan dingin Ibuku. Ibu hanya duduk terpaku memandang lantai keramik rumah dengan berkaca-kaca. Aku peluk tubuhnya. Dengan perlahan aku berjalan meninggalkan Ibu, menuju andong yang siap mengantarku ke stasiun. Di saat terakhir itu, aku melihat Ibu menitikkan air mata. Aku mendengar suara rintih itu, “Hati-hati nak. Doa Ibu selalu menyertaimu”. Tak kuasa aku melihat air mata itu membasahi pipinya. Semasa aku hidup bersamanya, dua kali aku melihat Ibu menangis. Yang pertama saat Ayahku meninggal, dan yang kedua adalah hari ini. Dengan perasaan kalut, aku tinggalkan Ibu sendirian di rumah. “Jalan Pak,” kataku kepada kusir.

Sesampainya di stasiun, segera aku ke loket memesan tiket ke Semarang.

Perjalanan ini terasa menyakitkan. Sisa-sisa kesedihan yang Ibu torehkan saat aku tinggalkan, membekas menjalari perasaan ini. Dalam hati aku meminta maaf kepada Ibu, ”Bu, maafkan Setyo, tidak bisa selalu berada di samping ibu, menemani masa senja ibu”. Tidak terasa air mata ini menggenangi pelupuk mata. Dengan segera aku tepis semua perasaan, ketika aku merasa ada yang duduk di sebelahku.

“Oh, maaf, sudah mengganggu lamunan Anda”, kata wanita di sebelahku. Aku sunggingkan senyumku, ”Maaf, tidak apa-apa”.

Selama beberapa jam, tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut ku dan dari mulut wanita di sebelahku. Akhirnya, kebekuan itu agak melumer setelah perempuan itu mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri, ”Kenalkan, saya Tini”, dengan menyunggingkan senyumnya yang memperjelas lesung pipinya.
“Hei, wanita seperti apakah yang ada di sampingku ini?”, pikirku. “Sebegitu beranikah dia memperkenalkan diri di hadapan orang yang tidak dikenalnya?”, masih tidak percaya.
“Maaf, apakah Anda melamun lagi?” tanyanya masih dengan uluran tangan yang belum ku jabat.
“Oh, maaf, saya Setyo”, kata ku dengan menjabat uluran tangannya.

Aku tidak banyak bicara. Aku terlalu malas untuk memulai berdialog dengannya. Walaupun sebenarnya di kepalaku banyak berjibun pertanyaan yang ingin ku ajukan untuk Tini. Tentang di mana dia tinggal? Dari mana dia? Apakah dia dari kota atau dari desa? Tetapi itu bukan urusanku. Tini, yang aku kenal lewat percakapan singkat itu, kira-kira tiga tahun lebih muda dari pada aku.

Aku tertidur, perjalanan dari Surabaya ke Semarang membutuhkan waktu 12 jam. Belum pernah olehku pergi dari rumah sejauh ini. Pantas saja jika Ibu sangat sedih melepas kepergianku.

Sekitar pukul delapan malam, aku sampai di Semarang. Aku terbangun. Aku dapati di sebelahku sudah tidak ada orang. “Mungkin Tini turun di stasiun lain dan tidak mau mengganggu tidurku”, pikirku. Keluar dari stasiun, segera aku mencari Andong yang menuju ke dusun Kaliwungu. Aku bertanya ke beberapa Kusir.

Perjalanan ke Kaliwungu memakan waktu dua jam. Aku duduk di andong bersama dua penumpang lainnya yang juga turun di Kaliwungu. Setelah mengobrol dan berkenalan singkat, ku ketahui bahwa mereka adalah penduduk asli Kaliwungu. Bapak tua itu, tepatnya sudah kakek-kakek, ke Semarang hanya untuk menjual kayu bakar. Si Bapak yang satunya, aku perkirakan usianya 45-an, ke Semarang menjadi kuli bangunan.
Kakek itu bertanya kepadaku, ”Nak Setyo ke Kaliwungu ada kepentingan apa? Apakah ada saudara di Kaliwungu?”.
Bapak yang satunya menambahi, ”Saya lihat nak Setyo bukan datang dari Semarang. Nak Setyo orang dari mana?”
“Apakah jawabanku penting untuk kalian?” pikirku jengkel dan aku jawab sekenanya, ”Saya memang bukan orang Semarang, saya dari Surabaya dan saya tidak memiliki saudara di Kaliwungu. Saya ditugaskan pemerintah ke Kaliwungu untuk mensosialisasikan praktik dokter.”

Mereka terheran-heran dan berdecak tidak percaya dengan yang aku utarakan. Mereka hanya menjawab dengan anggukan dan gumaman yang tidak jelas.

Pukul sepuluh sampailah di Kaliwungu. Kakek itu turun di depan pertigaan jalan dekat dengan hutan, sedangkan bapak itu masih belum turun sewaktu aku turun di depan warung kopi, tempat bapak-bapak ronda berkumpul untuk sekedar ngopi atau hanya untuk mengobrol. Di situ aku bertanya rumah kepala dusun Kaliwungu. Untungnya rumah kepala dusun tidak jauh dari warung tersebut. Ketika aku berbalik arah dan berjalan ke arah rumah kepala dusun, aku mendengar bapak-bapak di warung mempergunjingkan aku. “Ah biarlah,” kataku dalam hati, tidak ingin pusing memikirkan hal seperti itu.

Di depan rumah kepala dusun aku termangu. “Pantaskah aku bertamu selarut ini?”, tanyaku dalam hati, “Kalau tidak ke rumah ini, aku harus kemana? Tidak ada penginapan di daerah seperti ini”. Aku memberanikan diri mengetuk pintu rumah kepala dusun. “Semoga saja kepala dusun yang akan ku temui ini baik hati”, do’aku. Tok tok tok. “Permisi! Permisi!”, memberi salam. Tidak ada jawaban. Akhirnya, aku memutuskan untuk tidur di teras rumah kepala dusun.

Dingin menyerang sampai menusuk tulangku. Aku membuka tas ku dan mengenakan beberapa helai pakaian sampai tidak terasa dingin lagi.

Pagi menjelang.

“Pak, di luar ada seorang yang masih muda tidur di teras rumah kita”, kata istri kepala dusun kepada suaminya.
“Mungkin warga kita yang numpang tidur di situ Bu,” jawab suaminnya.
“Kalau warga sini, Ibu sudah pasti mengenalnya. Orang Ibu ini tidak kenal”, sangkal si ibu.
“Ya sudah, mari kita lihat ke luar”; ajak suaminya.

Kepala dusun ternyata juga asing melihat wajah orang yang tidur di teras rumahnya itu. Kemudian, Ia membangunkannya.
Sambil menggoyang-goyangkan badan si orang yang tidur itu, kepala dusun berkata, ”Nak, bangun nak! Sudah pagi”.

Aku terbangun mengamati sekitar dan melihat ke arah bapak dan ibu yang membangunkan aku. “Maaf pak, semalam saya tidur di teras rumah bapak tanpa izin. Sebenarmya saya semalam ingin membangunkan bapak tetapi saya kira sudah larut, jadi saya mengurungkan niat”, kataku meminta maaf. “Emm, perkenalkan pak, saya Setyo. Saya ditugaskan oleh pemerintah untuk mensosialisasikan praktik dokter di dusun Kaliwungu ini”, seraya mengulurkan tangan untuk berjabat. Aku merasa kepala dusun ini sedang mengingat-ingat sesuatu, dan kemudian..., “Ooo iya, saya baru ingat nak. Maaf kalau bapak lupa”, kata bapak itu sambil menjabat erat tanganku dan tertawa renyah. Aku lihat istrinya masih bingung melihat kita. Kata si bapak itu kepada istrinya,”Ini nak Setyo, dokter yang akan membuka praktik sementara di dusun ini. Bukannya Ibu sudah bapak kasih tahu?”. “Belum kok Pak”, jawab sang istri.

Suami istri itu mempersilakan aku masuk. Mereka sangat ramah. Aku dijamu layaknya seorang raja. Semua makanan yang mereka punya, mereka suguhkan kepadaku seorang. “Silakan nak dicicipi masakan ibu, maklum orang dusun mungkin tidak seberapa jika dibandingkan dengan di kota”, kata si istri merendahkan diri. “Mari nak, ayo kita makan”, ajak si suami. Aku mengangguk dengan senyum. Dalam hati aku merasa keluarga ini sangat hangat menyambut tamunya, “Semoga saja ini berlangsung hingga aku pulang nanti”.
Sambil aku menikmati makanan yang mereka suguhkan, aku edarkan pandanganku menjelajahi seisi rumah kepala dusun ini. Aku terkejut seketika menatap foto seorang gadis yang sepertinya aku pernah melihatnya. Iya, aku pernah melihat sosok wajah itu sewaktu perjalanan ke Semarang. Dia adalah wanita yang aku temui di kereta. Wanita yang sangat berani untuk ukuran seorang gadis desa. Aku putar kembali ingatan ku dan sekarang aku ingat, namanya Tini. Sebenarnya aku ingin bertanya soal foto itu tetapi aku urungkan niatku, barang kali hanya kebetulan atau mirip saja.

Setelah acara makan selesai, aku diantarkan ibu kepala dusun ke kamar yang bakal aku tempati untuk sementara waktu. Kamar ukuran 3x3 meter dengan tempat tidur lantai, almari yang terbuat dari kayu jati, dan meja-kursi yang bisa ku pergunakan untuk tempat baca ku. Aku rebahkan diri di atas kasur lantai ini. Secara tidak sengaja bayangan Ibu teringat kembali dalam benakku. “Ah ibu, kenapa ibu membayangi hari-hari ku?”, desah ku.

Tok tok tok. Bapak kepala dusun mengetuk pintu kamarku. Aku segera membukakan pintu. “Nak, nanti pukul delapan kita akan ke kantor. Nak Setyo siap-siap dulu saja”, kata bapak kepala dusun kepadaku. “Baik pak, terima kasih”, jawabku.

Pukul delapan aku telah siap menunggu bapak kepala dusun di teras rumah. Tidak lama, akhirnya bapak keluar. Kita berpamitan kepada ibu kepala dusun dan segera ke kantor jalan kaki. Kantornya tidak terlalu jauh dari rumah kepala dusun, kira-kira jaraknya satu kilometer. Hanya beberapa menit aku berjalan menuju kantor, aku sudah menjadi artis dadakan. Seluruh warga dusun yang kita lewati memandangku dengan mata yang mengerikan. Entahlah, apa yang mereka pikirkan tentang aku.

Di kantor, para sarikat sudah berkumpul menyambut kedatangan ku bersama dengan bapak kepala dusun. Ada yang tersenyum, ada pula yang hanya terdiam dengan tatapan mata sinis. Aku sadar, aku tidak akan diterima sepenuhnya di dusun ini.

Bapak kepala dusun memulai berdialog,”Mari bapak-bapak, perkenalkan ini dokter Setyo yang ditugaskan oleh pemerintah kota Semarang untuk mensosialisasikan praktik dokter di dusun Kaliwungu ini, meskipun sebenarnya nak Setyo ini jauh-jauh datang dari Surabaya. Nah, Nak Setyo akan membuka praktik selama tiga bulan dan akan membantu semua masalah warga yang berhubungan dengan kesehatan secara gratis alias tidak usah membayar. Nak Setyo akan membuka praktik di kantor ini. Jadi, saya mohon partisipasi dari bapak-bapak yang hadir di sini”.

Selesai bapak kepala dusun berdialog, para sarikat ribut. Mereka sanksi akan kemampuan dokter. Aku mendengar ada yang berceloteh,”Mana bisa dia menyembuhkan orang yang kena santet?”. Aku hanya terdiam mendengar celotehan itu. “Pekerjaan ini akan berat”, pikirku.

Semua peralatan kesehatan yang sekadarnya telah dipersiapkan oleh pemerintah Semarang. Sekarang aku hanya perlu merapikannya dan menunggu pasien untuk ku.
Sampai malam tiba tidak ada seorangpun yang datang untuk sekedar bertanya soal sakit panas, apalagi yang lebih parah dari itu. Warga Kaliwungu tidak merespon keberadaan ku di dusun ini. Padahal seluruh warga sudah dikasih tahu akan adanya praktik dokter ini.

Pukul tujuh malam, dari kantor aku pulang ke tempat rumah kepala dusun. Dalam perjalanan itu, aku menjumpai kakek yang kemarin satu andong denganku waktu perjalanan ke Kaliwungu. Di kegelapan itu ia memakai jubah hitam. Aku mencoba tersenyum ramah dan menyapanya. Akan tetapi, dia diam saja dan berkata sinis kepadaku,”Nak, hati-hati dengan praktik doktermu itu. Warga tidak setuju kamu membuka praktik di sini. Mereka lebih percaya kepada dukun daripada ilmu dokter mu nak”.

Sesampainya di dumah kepala dusun, aku hanya geleng-geleng kepala. “Apa yang mereka pikirkan tentang kehadiranku?”, tanyaku dalam hati.

“Bagaimana nak hari ini, apakah ada yang datang?”, suara bapak kepala dusun mengagetkan aku.
“Tidak ada pak. Mungkin warga belum pada tahu pak. Atau mungkin warga Kaliwungu ini semuanya sehat”, jawabku. “Maaf pak, saya permisi masuk kamar dulu”, sengaja menghindar dari bapak kepala dusun.
Keesokan paginya, waktu aku menuju tempat makan, seorang gadis telah duduk di tempat makan di sampingku. Setelah aku amati,”Tini!”, pekik ku dalam hati.
“Nak, kenalkan ini putri saya baru pulang dari Semarang, namanya Tini”, kata si bapak memperkenalkan putrinya.
“Semarang? Aku melihat dia di Surabaya pak!”, bantah ku dalam hati.

Aku tetap mengulurkan tangan kepadanya dan saling melempar senyum. Meskipun kita tahu, kita sudah saling mengenal. Aku hanya mengobrol seperlunya saja dengan Tini. Tidak ada pembicaraan yang istimewa. Bahkan, kita sama-sama tidak mempersoalkan pertemuan kita waktu dalam perjalanan dari Surabaya menuju Semarang.

Aku pergi ke kantor dengan harapan besar. Aku berharap ada pasien yang mau mampir ke tempat praktik ku. Seharian aku menunggu, tidak ada yang datang. Kesendirian ini membuatku terpikirkan lagi akan Ibu ku yang menunggu kepulanganku di Surabaya. “Setyo meninggalkan ibu baru tiga hari, tetapi sudah terasa tiga tahun,” desahku sedih mengingat ibu.

Aku menuggu sampai senja, akan tetapi tidak ada kemajuan. Tidak ada yang berminat untuk berobat ke tempat ku. Aku berniat untuk pulang saja. Di perjalanan pulang, saat melewati hutan, aku merasa ada yang mengikutiku. Di saat aku berbalik, aku terkejut. Sebuah pisau tajam telah tertancap di perutku. Aku terjatuh dan samar-samar aku melihat kakek itu tersenyum sinis mencabut pisaunya dari perutku, kemudian menggulingkanku dalam jurang. Kakek-kakek yang kemarin dengan sengaja menemui dan memperingatkan aku.

Ketika aku sadar, aku sudah tidak lagi ada di desa Kaliwungu. Aku di Semarang di sebuah rumah sakit. “Apa yang terjadi?”, aku mengingat-ingat kembali kejadian itu. Dan di saat aku benar-benar sadar, dengan rasa yang tidak percaya dan ku rasa itu mimpi, kedua kaki ku telah tiada. Pihak rumah sakit mengamputasi kaki ku. Meskipun aku tau, aku laki-laki, tetapi aku tidak kuasa untuk menahan rasa sedih dan kecewa ini. Aku mengangis tetapi yang aku pikirkan hanya satu, Ibuku. “Bagaimana jika Ibu tahu tentang keadaan ini?” raungku dalam hati yang sunyi, ”Apa salahku kepada warga Kaliwungu, sehingga kekek itu tega berbuat begini terhadapku?”

Sebulan kemudian.

Aku masih di rumah sakit. Kata dokter, lambungku sobek. Perlu waktu lama untuk sembuh. Aku juga menerima kabar dari dusun, bahwa pelakunya tidak ditemukan. Tidak ada saksi mata yang melihat kejadian itu, bukti pun tidak ditemukan. Aku hanya menerawang jauh melihat jedela, “Biarpun aku tahu siapa yang melakukannya, tetap saja aku tidak bisa menuduhnya.”

“Ibu, Setyo ingin cepat pulang,” teriaknya dalam hati. Setyo belum mengetahui bahwasannya Ibu yang setia menunggunya pulang ke Surabaya siang dan malam, tanpa memikirkan kesehatannya, telah berpulang ke hadapan Tuhan.

15 Oktober 2009
-suntea-

AGAR AKU TAU KEKURANGANKU, TOLONG TINGGALKAN "sebenarnya apa yg ingin disampaikan oleh suntea dari cerpen itu?" biar aku tau, yg ingin aku sampaikan ke pemabaca, sampe ato tidak. TERIMA KASIH ^^

20 Oktober 2009

CERNAK (cerita anak) CHACA dan PERMEN


Pada suatu hari, terdengarlah decapan air liur dari luar kamar seorang gadis kecil berumur delapan tahun yang akrab dipanggil Chaca. Mama Chaca yang mendengar samar-samar akan hal itu, memperjelas dengan menempelkan telinganya ke pintu kamar Chaca.
Chaca : “Hemm… enak banget!” (sambil mengunyah permen)
Mama Chaca terheran-heran dan khawatir dengan anaknya, kemudian Mama mengetuk kamar Chaca. Tok tok tok….
Mama : “Cha, buka pintunya. Mama mau masuk. Kamu lagi ngapain Nak?”
Chaca : “Chaca gak ngapa-ngapain kok Ma!”
Mama : (masih di luar kamar) “Iya, tetapi buka dulu donk pintunya, Mama mau masuk”
Dengan segera, Chaca menyembunyikan semua permennya dalam almari bajunya dan diselipkan di bawah baju-baju. Setelah itu, Chaca membukakan pintu untuk Mamanya.
Chaca : “Ada apa Mama Chaca tersayang?”
Mama : “Chaca makan ya di kamar? Kok tadi Mama dengar Chaca bedecak keenakan”
Chaca : (bingung mencari alasan, menjawab dengan terbata-bata dan sekenanya) “Chaca tadi liat buku masakan. Masakannya enak-enak Ma. Hemm, jadi lapar. Oh ya, hari ini Mama masak apa?” (mengalihkan pembicaraan)
Mama : (mencoba percaya kepada Chaca) “Ya sudah kalau begitu. Hari ini Mama masak Ayam kecap kesukaan Chaca dan khusus Mama buatin buat Chaca.”
Chaca : “Wahhh…makasih Mama. Ayo Ma ke dapur! Chaca sudah ngiler ini.” (dengan menyeret lengan Mamanya)

Di dapur, Mama menunggui Chaca makan. Kemudian, Mama berbicara sesuatu.
Mama : “Chaca sayang, Mama tidak mau mendengar lagi Chaca makan permen. Nanti gigi Chaca sakit lagi. Coba, Mama pingin dengar. Kemarin, Om dokter berpesan apa sama Chaca?” (sambil mengelus rambut Chaca)
Chaca : “Emmm…tidak boleh makan permen terlalu banyak dan keseringan karena gigi Chaca sudah ada yang bolong. Jadi, kalau gigi Chaca sakit, nanti dicabut.”
Mama : “Pinter anak Mama. Terus, Chaca mau giginya dicabut?”
Chaca : “Gak mau Ma. Sakit!” (sambil memegang pipi)
Mama : “Jadi Chaca harus gimana?”
Chaca : “Tidak akan makan permen lagi”
Mama : “Bagus! Itu baru putri kesayangan Mama.” (memeluk Chaca)

Keesokan paginya, di saat Mama mau membangunkan Chaca, terdengar rintihan kesakitan dan isakan tangis dari dalam kamar Chaca.
Chaca : “Aduh…. Hik hik….” (sambil memegangi pipi kanannya)
Tanpa mengetuk pintu, Mama membuka pintu dan masuk menghampiri Chaca.
Mama : “Kenapa sayang?”
Chaca : (sambil terisak-isak, menjawab pertanyaan Mama) “Gigi Chaca sakit Ma..”
Mama : (kaget) “Lhoh, bukannya Chaca sudah janji berhenti makan permen?”
Tidak ada jawaban dari Chaca.
Mama : “Yasudah, sekarang kita ke tempat Om dokter ya? Berhenti donk nangisnya, nanti jelek anak Mama. Chaca ganti baju dulu ya.”
Chaca : (dengan lesu Chaca membuka almari dan mengambil sebuah baju, kemudian…) “Argh! Mama!”
Mama : (segera Mama menghampiri Chaca, terkejut) “Kenapa lagi sayang?”
(melihat sekumpulan semut di tumpukan baju Chaca dan ada permen, Mama terkejut) “Chaca naruh permen di tumpukan baju Chaca?”
Chaca : (merasa bersalah, menundukkan kepala) “Maafin Chaca Ma…”
Mama : “Yasudah tidak apa-apa, yang penting sekarang kita ke tempat Om dokter gigi. Oke?”
Chaca: “Oke Ma!”

Sejak kejadian itu, Chaca tidak lagi makan permen, menyembunyikan permen di dalam almari, dan berbohong kepada Mamanya. Chaca juga akan menuruti perkataan Mamanya dan juga Om dokter. Karena gara-gara kejadian itu, Chaca harus kehilangan satu gigi gerahamnya yang sudah bolong.